mengapa multitasking adalah mitos

kerusakan kognitif akibat kerja simultan

mengapa multitasking adalah mitos
I

Pernahkah kita berada dalam situasi seperti ini? Tangan kanan memegang mouse sambil asyik scroll laporan keuangan. Mata menatap layar Zoom yang sedang menyiarkan rapat divisi. Sementara itu, tangan kiri sibuk membalas pesan WhatsApp dari keluarga, dan mulut asyik mengunyah makan siang. Di momen-momen kacau namun ritmis itu, kita mungkin merasa seperti pahlawan super. Kita merasa sangat sibuk, dan kesibukan itu sering kita artikan sebagai produktivitas. Tapi, apakah benar begitu? Mari kita bicarakan sesuatu yang mungkin akan sedikit menampar ego produktivitas kita bersama. Ternyata, kebanggaan kita tentang multitasking itu adalah sebuah kebohongan besar.

II

Mari kita mundur sedikit ke pertengahan abad ke-20 untuk mencari tahu dari mana datangnya kebohongan ini. Jika kita mencari kata multitasking di kamus sebelum tahun 1960-an, kita tidak akan menemukannya. Kenapa? Karena kata ini pada awalnya diciptakan sama sekali bukan untuk manusia. Istilah ini diciptakan oleh para insinyur komputer untuk mendeskripsikan kemampuan mesin pengolah data atau Central Processing Unit (CPU). Ya, pada dasarnya ini adalah istilah teknis mesin. Namun, seiring berjalannya waktu, dunia industri dan budaya kerja modern mulai mengadopsi kata ini. Kita mulai menuntut diri kita sendiri untuk bekerja seperti mesin. Kita memaksa otak organik kita untuk beroperasi layaknya microchip. Masalahnya, kita bukan mesin. Dan ketika daging, darah, dan neuron dipaksa bekerja seperti sirkuit elektronik, sesuatu di dalam sana mulai retak. Pertanyaannya, jika ini merusak, kenapa kita malah merasa ketagihan melakukannya?

III

Di sinilah letak jebakan psikologisnya yang begitu rapi. Setiap kali kita berhasil mengirim email sambil mendengarkan podcast, otak kita melepaskan hormon dopamin. Ini adalah senyawa kimia pemicu rasa senang dan penghargaan. Otak menipu kita dengan ilusi kepuasan sesaat. Kita merasa telah menaklukkan waktu dan mengalahkan sistem. Namun, di balik perasaan bangga yang memabukkan itu, ada harga sangat mahal yang sedang ditagih secara diam-diam oleh tubuh kita. Pernahkah teman-teman merasa kelelahan yang luar biasa di sore hari, padahal rasanya belum banyak pekerjaan berat yang benar-benar tuntas? Atau merasa semakin sering lupa menaruh barang bawaan? Atau tiba-tiba sulit memahami satu paragraf buku yang sedang dibaca ulang-ulang? Gejala-gejala menjengkelkan ini bukanlah sebuah kebetulan. Ada proses destruktif yang sedang terjadi di dalam batok kepala kita setiap kali kita memaksakan diri melakukan kerja simultan. Apa yang sebenarnya sedang rusak di dalam sana?

IV

Sekarang mari kita bedah faktanya secara sains. Dalam dunia neurosains, kemampuan multitasking manusia itu sebenarnya tidak pernah ada. Itu murni mitos. Apa yang sebenarnya otak kita lakukan adalah task-switching, atau berpindah tugas dengan sangat cepat. Saat kita berpindah dari layar spreadsheet ke layar chat, otak kita harus mematikan satu sirkuit saraf dan menyalakan sirkuit lainnya secara paksa. Proses ini terjadi di prefrontal cortex, bagian otak yang menjadi pusat komando logika dan fokus kita. Celakanya, perpindahan ekstrem ini memakan biaya kognitif yang disebut switch cost. Setiap kali kita berpindah fokus, otak butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi dengan konteks pekerjaan. Akibatnya, alih-alih hemat waktu, kita justru kehilangan hingga 40 persen waktu produktif kita. Lebih mengerikan lagi, sebuah penelitian dari Universitas London menemukan bahwa orang yang rutin memaksakan diri melakukan kerja simultan mengalami penurunan IQ secara temporal. Penurunan skor kognitif ini ternyata setara dengan orang yang begadang semalaman tanpa tidur. Kita tidak menjadi lebih efisien, kita justru membuat diri kita sendiri menjadi lebih lambat, lebih ceroboh, dan membanjiri tubuh dengan hormon stres kortisol yang perlahan-lahan memanggang kapasitas memori kita.

V

Mendengar fakta-fakta keras ini mungkin membuat kita sedikit cemas atau merasa bersalah. Tapi tenang saja, saya mengajak teman-teman membedah ini bukan untuk menghakimi satu sama lain. Kita semua hanyalah korban dari budaya kerja modern yang terlalu terobsesi pada kecepatan yang ilusif. Menyadari bahwa otak kita memang tidak pernah dirancang untuk bekerja paralel sebenarnya adalah sebuah kelegaan besar. Ini berarti, saat kita gagal fokus membalas pesan sambil menyetir atau memimpin rapat, itu bukan karena kita tidak kompeten. Itu murni karena kita adalah manusia yang normal. Mulai hari ini, mari kita coba berikan pelukan dan hadiah terbaik untuk otak kita: perhatian penuh. Cobalah melakukan satu hal pada satu waktu, atau yang sering disebut monotasking. Kerjakan laporan dengan tenang. Minum kopi tanpa menatap layar gawai. Dengarkan rekan kerja berbicara tanpa mengecek notifikasi. Pada akhirnya, kita akan menyadari satu ironi yang sangat indah. Dengan memperlambat ritme dan memfokuskan pikiran pada satu titik, kita justru bisa menyelesaikan jauh lebih banyak hal, dengan kualitas yang jauh lebih baik, dan tentunya dengan kewarasan yang tetap utuh.